by: Nur Alfa Rahmah

Kristen dan Sekularisme (part I)

Dunia Kristen pada dasarnya diwarnai trauma sejarah, kerancuan teks Bible, dan ketidakjelasan konsep trinitas serta tentang siapa sebenarnya Yesus. Tidak heran jika kemudian mereka memilih untuk menjadi sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) dan liberal. Dalam sejarah Kristen Eropa sendiri, kata secular dan liberal diartikan sebagai pembebasan masyarakat dari cengkraman kekuasaan Gereja, yang sangat kuat hegemoninya di Zaman Pertengahan.

Kristen Pada Zaman Pertengahan.

Hingga abad ke-3 masehi, Barat berada dalam kekuasaan imperium. Imperium terakhir yang menguasainya adalah Imperium Romawi Barat, dan selama itu agama Kristen mengalami penindasan dan penekanan. Agama Kristen mulai mendapatkan kebebasan saat Kaisar Konstantin mengeluarkan Edict of Milan pada tahun 313 M, yang berisi pelarangan penindasan terhadap semua jenis monoteisme di Romawi. Kaisar Konstantin memberi kesempatan pada tokoh-tokoh Gereja untuk menjadi bagian dari administrasi pemerintahan. Tak hanya itu, pada tahun 325 M ia juga mempelopori Konsili Nicea yang menyatukan teologi resmi Gereja dan menjadikan Roma sebagai pusat resmi Christian orthodoxy. Sejak saat itulah kepercayaan yang berbeda dari Gereja resmi dianggap penyimpangan. Lucunya, dalam Konsili ini, aspek-aspek ketuhanan Yesus diputuskan mealui voting.1 Lalu pada tahun 392M, agama Kristen mulai memegang posisi sebagai agama negara (state-religion) dari Imperium Romawi. 2

Imperium Romawi Barat runtuh tahun 476 masehi. Namun, organisasi Gereja tetap eksis bahkan tumbuh menjadi sangat kuat dan anggotanya semakin meningkat. Pada masa kehancuran imperium itu, Gereja menjadi satu-satunya yang bisa memberikan alternatif rekonstruksi kehidupan. Gereja tetap mempertahankan sistem administrasi Romawi dan memelihara elemen-elemen peradaban Yunani-Romawi. Pengaruhnya meluas begitu cepat di seluruh daratan Eropa. Bahkan biara-biara menjelma menjadi pusat peradaban. 3 Gereja Romawi mulai terorganisasi dengan baik pada zaman Paus Gregorius (590-604) yang dikenal sebagai “The Great”. Dialah yang membangun birokrasi kepausan dan memperkuat otoritas kepausan dengan menyusun “kekuatan politik kepausan” (political power of the popes). Sejak itu, peradaban Barat pun memasuki Zaman Pertengahan, yang kemudian terkenal dengan “zaman kegelapan” (Dark Ages).

Pada abad ke-8, aliansi antara Paus Stephen III dan Raja Pippin dari Perancis berhasil mendirikan “Kerajaan Kepausan” (Papal States). Hasilnya, institusi kepausan memiliki otoritas yang jauh lebih besar dari Raja, bahkan mampu melakukan pengucilan terhadap Raja yang kekuatannya sangat besar di Eropa, seperti yang terjadi pada Raja Henry IV. 4 Lebih jauh, gesekan dengan musuh seperti pasukan kaum Muslimin dan bangsa Norman membuat Paus tergerak membentuk milisi-milisi bersenjata. Akhirnya, pada tahun 1073, Paus Gregorius VII berhasil memberntuk milisi bersenjata yang bernama “the Knight of St. Peter”. 5

Di zaman hegemoni kekuasaan Gereja inilah lahir sebuah institusi Gereja yang sangat terkenal kejahatannya dan kekejamannya yang disebut “INQUISISI”. Karen Amstrong menggambarkannya sebagai berikut:

“ Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi, yang merupakan instrument teror dalam Gereja Katolik sampai akhir abad ke-17. Metode Inquisisi ini juga dilakukan oleh Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.” 6

Robert Held, dalam bukunya “Inquisition” memuat foto-foto dan lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh Gereja kala itu. Dia memaparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat penyiksaan yang sangat tidak manusiawi, seperti pembakaran mayat hidup-hidup, pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat lainnya yang tidak kalah brutal. Ironisnya, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita. Antara tahun 1450-1800, diperkirakan dua hingga empat juta wanita dibakar hidup-hidup baik di daratan Katolik maupun Eropa.

Ketika pasukan Napoleon menaklukan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan itu memaksa masuk, para inquisitor itu tidak mengakui adanya ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi setelah di geledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang dan beberapa di antaranya gila. Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah sampai muak melihat pemandangan itu. 7

Saat melakukan berbagai berbagai kesewenangan, Gereja mangatasnakaman Tuhan. Para pemimpin Gereja pun diakui haknya untuk memberi ampunan dosa terhadap rakyatnya. Kekejaman ini menimbulkan trauma dan dendam tersendiri di benak masyarakat Barat. Trauma ini melahirkan paham sekularisme dalam politik. Mereka selalu mengatakan bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi ‘politisasi agama’ sehingga agama haruslah dipisah dari negara. Memang, di abad pertengahan, Gereja merupakan kekuatan dominan dalam politik. Tak hanya politik dan agama, Gereja juga menguasai aspek ekonomi. Pada abad ke-10, Gereja merupakan pemilik lahan terbesar di Eropa Barat, hampir sepertiga Itali. Sebuah ungkapan popular ketika itu adalah “Berhati-hatilah jika anda berada di depan seorang wanita, berhati-hatilah jika anda berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika anda berada di depan dan di belakang pendeta” 8

Singkatnya, sejarah abad pertengahan memberikan perubahan besar terhadap cara Barat memandang agama. Scott Peck, seorang Psikolog Barat menyatakan:

“Sekali kata ‘religion’ disebutkan di dunia Barat, ini akan membuat orang berpikir tentang:…inquisisi, takhayul, lemah semangat, paham dogmatis, munafik, benar sendiri, kekakuan, kekasaran, pembakaran buku, pembakaran dukun, larangan-larangan, ketakutan, taat aturan agama, pengakuan dosa, dan kegilaan. Apakah semua ini Tuhan lakukan untuk manusia dan apa yang manusia lakukan terhadap Tuhan. Ini merupakan bukti kuat bahwa percaya kepada Tuhan sering menjadi dogma yang menghancurkan.” 9

Perpecahan antara Katolik dan Protestan

Dunia Kristen juga diwarnai perpecahan antara Protestan dan Katolik. Mereka saling membantai satu sama lain. Di Paris, Perancis, misalnya, pembantaian kaum Protestan—terutama Calvinist—yang paling mengerikan oleh kaum Katolik adalah pada tahun 1572 M yang dikenal sebagai “The St. Bartholomew’s Day Massacre.” Diperkirakan 10.000 orang mati. Selama berminggu-minggu, jalan-jalan di Paris dipenuhi mayat-mayat laki-laki, wanita, dan anak-anak yang membusuk. 10

Problem dalam Teks Bible

Sungguh menggelikan bila ada umat Islam yang mencoba menyamakan antara Al-Qur’an dengan Bible. Sebab, meskipun sama-sama kitab suci, keduanya sangatlah berbeda. Dari aspek autentisitas saja, Al-Qur’an sudah terjamin kebenarannya sementara Bible tidak. Bahkan pengkritik Islam, Sir William Muir, mengakui kemurnian Al-Qur’an: “Di dunia ini mungkin tidak ada kitab lain yang teksnya tetap murni selama dua belas abad (sekarang empat belas).” 11

Berbeda dengan Bible, Hebrew Bible (Perjanjian Lama) misalnya, yang hingga kini masih merupakan misteri. Richard Elliot Friedman menulis dalam bukunya, Who Wrote the Bible:

“Adalah sebuah fakta yang mengherankan bahwa kita tak pernah tahu siapa yang telah membuat buku itu yang telah menjalankan peran penting dalam peradaban kita (It is strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization).”

Hingga kini, juga masih misteri apakah memang benar The Five Book of Moses ditulis oleh Moses, Book of Lamentation ditulis oleh Nabi Jeremiah, dan separuh Mazmur (Psalm) ditulis oleh King David. 12 Tidak hanya itu, isi Bible pun banyak mengandung kesalahan. Dalam majalah Awake tanggal 8 September 1957, Sekte Kesaksian Yehovah pernah memuat judul “50.000 Kesalahan di dalam Injil”. Bahkan Ellen G. White, seorang “Nabi” gereja Advent Hari Ketujuh, juga mengakui adanya kesalahan dalam Injil. 13

Perjanjian Baru (The New Testament) juga mengalami banyak problem otentisitas teks. Metzger, dalam bukunya A Textual Commentary on the Greek New Testament, menyebutkan dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible: 1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan 2) teks Bible yang ada sekarang bermacam-macam. Dalam bahasa Yunani saja, ada sekitar 5.000 manuskrip yang berbeda satu sama lain. Apalagi jika terjemahannya sudah dilakukan ke berbagai macam bahasa. 14 Tak hanya masalah otentisitas, problem lain yang juga muncul adalah ketika ilmu pengetahuan harus bertentangan dengan ajaran teks Bible, seperti kasus berabad-abad lalu terhadap Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus.

Problem Teologi

Sebagaimana diketahui bersama, dalam Kristen, Tuhan pun menjadi satu Probem. Sepanjang peradaban Barat, terjadi banyak perdebatan teologis yang akhirya rasio harus disubordinasikan kepada ajaran Kristen.

Konsep ketuhanan Yesus sebenarnya bukanlah berasal dari masa Yesus, tetapi dari Konsili Nicea pada tahun 325, yang, ironisnya, dicapai melalui voting. Dalam the Messianic Legacy ditulis: “At Nicea Jesus’s divinity, and the precise nature of his divinity, were established by means of vote. It is fair to state that Christianity We know today derive ultimately not from Jesus’s time, but from the Council of Nicea 15

Konsili Nicea yang dipelopori Kaisar Konstantin sedikit banyak dipengaruhi oleh paganism karena sebenarnya sang Kaisar adalah penganut paganism, bukan Kristen. Maka dari itu, jika sebelumnya hari menghormati hari Sabtu, maka di Konsili iu diputuskan hari Minggu adalah hari istirahat. Jika seelumnya kelahiran Yesus diperingati tanggal 6 Januari, maka sesuai tradisi persembahan pagan Sol Invictus yang menjadikan 25 Desember sebagai hari penting, maka Natal pun dipindah ke tanggal tersebut. 16

Sejak dahulu kala, para teolog Kristen berusaha merumuskan pemahaman tentang Yesus tapi tidak pernah mencapai titik temu. Hal ini semakin sulit karena Yesus sendiri tidak pernah menyebut dirinya Tuhan. Perdebatan pun tidak bisa dihindari. Tak hanya konsep ketuhanan Yesus yang menjadi perdebatan, tapi juga tentang kebenaran “penyaliban” dan “kebangkitan” nya serta siapa pembunuhnya. Dalam Perjanjian Baru memang dikatakan bahwa kaum Yahudi yang bertanggungjwab secara kolektif terhadap pembunuhannya. Namun, John Dominic Crossan, Professor dalam Biblical Studies di DePaul University Chicago membantah dalam bukunya Who Killed Jesus?. Ia memaparkan bahwa pemahaman bahwa Yahudilah yang membunuh Jesus bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Lebih jauh, perdebatan tentang Yesus bahkan mencapai pertanyaan apakah ia benar-benar ada atau tokoh fiktif. 17

1. Lihat Michael Bigent, Richard Leigh, Henry Lincoln. 1986. The Messianic Legacy. New York: Dell Publishing, hlm 36-42.2/3. Lihat Marvin Perry. Western Civilization, hlm 128-129; 151;4. Lihat Eric O. Hanson. 1987. The Catholic Church in World Politics. Princeton: Princeton University Press. Hlm 23-24; Luigi Sturzo. 1962. Church and State. Notre Dame: University of Notre Dame Press, hlm 52-54.

5/6 Lihat Karen Amstrong. 1991. Holy War: The Crusades and Their Impact on Todays’ World. London: McMilan London Limited, hlm 62-63; hlm 456.

7. Lihat Peter De Rosa. Vicars of Christ: The Dark Side of Papacy, hlm 239

8. Lihat Owen Chadwick. 1975. The Secularization of European Mind in the Nineteenth Century. New York: Cambridge.

9. Lihat Scott Peck. 1990. The Road Less Travelled. London: Arrow Books Ltd, hlm 237-238

10. Philip J. Adler. World Civilization, hlm 322

11. Lihat Ahmad Deedat. 2006. The Choice: Dialog Islam-Kristen. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hlm 333

12. LIhat Richard Elliot Friedman. 1989. Who Wrote the Bible. New York: Perennial Library, hlm 15-17

13. Lihat Ahmad Deedat. 2006. The Choice: Dialog Islam-Kristen. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hlm 355

14. Untuk contoh perbandingan antar Bible, lihat Adian Husaini. 2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal. Jakarta: Gema Insani Press, hlm 44-46

15/16. Lihat Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln the Messianic Legacy. New York: Dell Publishing, hlm 36-42

17. Pendapat ini dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan William Benjamin Smith (1850-1934). Lihat Howard Clark Kee. 1970. Jesus in History. New York: Hancourt, Brace&World Inc, hlm 29

share